Minggu, 28 Februari 2016

Sebuah Cermin Kecil, Refleksi Diri.




Senin, 22 februari 2016, berlokasi di ruangan 201B Gedung Lama Pascasarjana UNY. Perkuliahan matematika model dimulai pukul 9.20. Pada awal perkuliahan, Profesor meminta kami untuk menyiapkan handphone sebagai alat untuk merekam kuliah yang disampaikan beliau. Jauh-jauh hari saya sudah mendapatkan cerita dari teman-teman kelas lain yang dulunya pernah diajarkan beliau. Memang benar, belajar dengan beliau tidak perlu mencatat, bahkan tidak dianjurkan untuk mencatat. Hanya perlu merekam isi perkuliahan selama 2 sks penuh kemudian merefleksikan hasilnya saat perkuliahan selesai. Jadi,disinilah saya mencoba merenungkan kembali hasil pembelajaran kami hari itu. Memang sangat terlambat untuk merefleksikan hasil perkuliahan seminggu lalu. Namun beruntungnya ada rekaman suara Profesor yang bisa saya jadikan pedoman untuk belajar malam ini.

Belajar dari rekaman adalah hal baru bagi saya. Biasanya selama perkuliahan berlangsung, saya mendengarkan kemudian mencatat apa yang saya pelajari hari itu. Namun untuk perkuliahan matematika model ini, kami tidak dianjurkan mencatat. “Baik saudara, anda tidak perlu banyak menulis kalau kuliah saya, yang penting merekam kemudian berfikir. Jangan terlalu tegang tapi juga jangan terlalu nothing to lose, sedang-sedang saja.” kata Profesor. Profesor mencoba membawa kami ke suasana belajar yang santai namun serius. Diselingi canda tawa tersirat beberapa petuah dari beliau, “Tersenyumlah memandang dunia, maka dunia akan tersenyum memandangmu”, kata Profesor disela-sela senda guraunya bersama kami.

Kemudian beliau melanjutkan perkenalan tentang apa itu matematika model. Sebuah istilah yang relatif baru bagi saya meski mungkin pernah saya dengar sebelumnya disuatu kesempatan. Profesor menyebutkan bahwa intisari dari matematika model ini adalah “Hermenetika”. Singkatnya Hermenetika itu secara harfiah adalah “diterjemahkan dan menerjemahkan”. Jika digambarkan akan berbentuk spiral, dimana di dalamnya terdapat matematika dan hal lain di luar matematika, yaitu filsafatnya. Maka bisa dianggap matematika model itu sebagai kelanjutan dari mata kuliah filsafat ilmu.

Mengulas kembali mengenai mata kuliah filsafat ilmu, Profesor menyebutkan pada akhir perkuliahan filsafat ilmu anda tidak dapat menghasilkan suatu formula sebagai hasil perkuliahan tersebut karena formula tersebut kontekstual  baik dalam ruang dan waktunya. Maka untuk mendapatkan ide tertentu adalah kapan, dimana dan menurut siapa ide itu dibangun. Jadi tidak ada defenisi pasti dari filsafat ilmu yang anda ketahui. Menurut Profesor, kami dapat mempelajari filsafat ilmu dari sumber manapun yang berkaitan dengan mata kuliah tersebut.

Matematika yang kita pelajari adalah struktur atau model. Semua matematika punya struktur. Maka dalam filsafat ilmu, semua ide adalah struktur. Karena filsafat ilmu itu adalah ide atau pengetahuan. Objek filsafat adalah semua yang ada dan mungkin ada. Objek yang ada itu adalah yang ada dalam pikiran kita sedangkan yang belum ada ya adalah apa yang belum ada dalam pikiran kita. Banyaknya tak terhitung. Maka secara filsafat, belajar itu adalah mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada. Bagaimana membedakan objek yang ada dan mungkin ada? Yaitu dengan dapat menyebutkan salah satu sifatnya maka objek tersebut sudah ada dalam pikiran kita.

Metode belajar filsafat adalah Hermenetika, terjemah menerjemahkan, sama dengan metode hidup. Bahwasannya belajar itu adalah silaturahim. Seperti Profesor yang memberi perkuliahan kepada kami, dan kami yang menerima ilmu yang disalurkan Profesor. Alat belajar filsafat adalah bahasa analog, dimana tingkatan rendah itu sama, matematika itu identik. Bahasa analog tidak mesti perumpamaan meski di dalamnya terdapat perumpamaan.

“Sebenar-benarnya filsafat adalah dirimu sendiri”, kata Profesor. Beliau memberikan 2 sumber belajar filsafat untuk menyempurnakan mata kuliah filsafat ilmu yang pernah kami ikuti sebelumnya. Beliau menyebutkan syarat membaca 2 sumber tersebut adalah ikhlas dalam pikir dan ikhlas dalam hati. Ikhlas dalam pikir artinya paham apa yang dibaca. Ikhlas dalam hati artinya terbebas dari rasa sedih, rasa terpaksa, manipulatif, curang dan sebagainya. 

Maka disinilah saya mencoba terus membaca sumber-sumber yang diberikan Profesor guna mengulas kembali mengenai filsafat ilmu, memperdalam pemahaman saya dan memperluas pengetahuan saya. Sudah 6 hari sejak perkuliahan hari pertama, sudah 6 hari juga saya membaca blog Profesor.  Apa yang beliau katakan di kelas adalah benar, bahwa di blog beliau tersebut ada banyak sekali bacaan yang bermanfaat. Tidak hanya tentang filsafat secara khususnya, namun juga tentang kehidupan secara umumnya.