Senin,
22 februari 2016, berlokasi di ruangan 201B Gedung Lama Pascasarjana UNY. Perkuliahan
matematika model dimulai pukul 9.20. Pada awal perkuliahan, Profesor meminta
kami untuk menyiapkan handphone sebagai
alat untuk merekam kuliah yang disampaikan beliau. Jauh-jauh hari saya sudah
mendapatkan cerita dari teman-teman kelas lain yang dulunya pernah diajarkan
beliau. Memang benar, belajar dengan beliau tidak perlu mencatat, bahkan tidak
dianjurkan untuk mencatat. Hanya perlu merekam isi perkuliahan selama 2 sks penuh
kemudian merefleksikan hasilnya saat perkuliahan selesai. Jadi,disinilah saya
mencoba merenungkan kembali hasil pembelajaran kami hari itu. Memang sangat
terlambat untuk merefleksikan hasil perkuliahan seminggu lalu. Namun beruntungnya
ada rekaman suara Profesor yang bisa saya jadikan pedoman untuk belajar malam
ini.
Belajar
dari rekaman adalah hal baru bagi saya. Biasanya selama perkuliahan berlangsung,
saya mendengarkan kemudian mencatat apa yang saya pelajari hari itu. Namun untuk
perkuliahan matematika model ini, kami tidak dianjurkan mencatat. “Baik
saudara, anda tidak perlu banyak menulis kalau kuliah saya, yang penting
merekam kemudian berfikir. Jangan terlalu tegang tapi juga jangan terlalu nothing to lose, sedang-sedang saja.” kata
Profesor. Profesor mencoba membawa kami ke suasana belajar yang santai namun
serius. Diselingi canda tawa tersirat beberapa petuah dari beliau, “Tersenyumlah
memandang dunia, maka dunia akan tersenyum memandangmu”, kata Profesor disela-sela
senda guraunya bersama kami.
Kemudian
beliau melanjutkan perkenalan tentang apa itu matematika model. Sebuah istilah
yang relatif baru bagi saya meski mungkin pernah saya dengar sebelumnya disuatu
kesempatan. Profesor menyebutkan bahwa intisari dari matematika model ini
adalah “Hermenetika”. Singkatnya Hermenetika itu secara harfiah adalah “diterjemahkan
dan menerjemahkan”. Jika digambarkan akan berbentuk spiral, dimana di dalamnya
terdapat matematika dan hal lain di luar matematika, yaitu filsafatnya. Maka
bisa dianggap matematika model itu sebagai kelanjutan dari mata kuliah filsafat
ilmu.
Mengulas
kembali mengenai mata kuliah filsafat ilmu, Profesor menyebutkan pada akhir
perkuliahan filsafat ilmu anda tidak dapat menghasilkan suatu formula sebagai
hasil perkuliahan tersebut karena formula tersebut kontekstual baik dalam ruang dan waktunya. Maka untuk
mendapatkan ide tertentu adalah kapan, dimana dan menurut siapa ide itu
dibangun. Jadi tidak ada defenisi pasti dari filsafat ilmu yang anda ketahui. Menurut
Profesor, kami dapat mempelajari filsafat ilmu dari sumber manapun yang
berkaitan dengan mata kuliah tersebut.
Matematika
yang kita pelajari adalah struktur atau model. Semua matematika punya struktur.
Maka dalam filsafat ilmu, semua ide adalah struktur. Karena filsafat ilmu itu
adalah ide atau pengetahuan. Objek filsafat adalah semua yang ada dan mungkin
ada. Objek yang ada itu adalah yang ada dalam pikiran kita sedangkan yang belum
ada ya adalah apa yang belum ada dalam pikiran kita. Banyaknya tak terhitung. Maka
secara filsafat, belajar itu adalah mengadakan dari yang mungkin ada menjadi
ada. Bagaimana membedakan objek yang ada dan mungkin ada? Yaitu dengan dapat
menyebutkan salah satu sifatnya maka objek tersebut sudah ada dalam pikiran
kita.
Metode
belajar filsafat adalah Hermenetika, terjemah menerjemahkan, sama dengan metode
hidup. Bahwasannya belajar itu adalah silaturahim. Seperti Profesor yang
memberi perkuliahan kepada kami, dan kami yang menerima ilmu yang disalurkan
Profesor. Alat belajar filsafat adalah bahasa analog, dimana tingkatan rendah
itu sama, matematika itu identik. Bahasa analog tidak mesti perumpamaan meski
di dalamnya terdapat perumpamaan.
“Sebenar-benarnya
filsafat adalah dirimu sendiri”, kata Profesor. Beliau memberikan 2 sumber
belajar filsafat untuk menyempurnakan mata kuliah filsafat ilmu yang pernah
kami ikuti sebelumnya. Beliau menyebutkan syarat membaca 2 sumber tersebut
adalah ikhlas dalam pikir dan ikhlas dalam hati. Ikhlas dalam pikir artinya
paham apa yang dibaca. Ikhlas dalam hati artinya terbebas dari rasa sedih, rasa
terpaksa, manipulatif, curang dan sebagainya.
Maka disinilah saya
mencoba terus membaca sumber-sumber yang diberikan Profesor guna mengulas
kembali mengenai filsafat ilmu, memperdalam pemahaman saya dan memperluas
pengetahuan saya. Sudah 6 hari sejak perkuliahan hari pertama, sudah 6 hari
juga saya membaca blog Profesor. Apa
yang beliau katakan di kelas adalah benar, bahwa di blog beliau tersebut ada
banyak sekali bacaan yang bermanfaat. Tidak hanya tentang filsafat secara
khususnya, namun juga tentang kehidupan secara umumnya.