Kamis,
12 Mei 2016, berlokasi di Gedung Lama Pascasarjana UNY. Perkuliahan hari itu
dimulai pukul 15.30 wib. Sama seperti pertemuan sebelumnya, perkuliahaan hari
ini membahas tugas paper unsur
ontologis yang telah kami buat. Bedanya adalah kali ini tugas tersebut tidak
dinilai namun tetap diberi masukan oleh Profesor agar tulisan yang kami uat
menjadi lebih baik lagi.
Pada
kesempatan ini saya menulis paper mengenai
Negara. Namun karena keterbatasan waktu, paper
saya tidak kebagian tambahan masukan dari Profesor. Oleh karenanya pada
refleksi kali ini saya akan membahas mengenai paper yang dibuat oleh teman-teman lainnya.
Pada
pertemuan sebelumnya Profesor mengingatkan agar kami memilih topik unsur
ontologis yang tepat dan membuat tulisan dengan penyusunan yang rapi dan tepat.
Kali ini Profesor mengingatkan kembali mengenai bagaimana mencantumkan sumber
yang digunakan. Karena saya sendiripun belum mencantumkan sumber dengan tepat,
maka saya banyak belajar hari ini.
Salah
satu topik yang cukup lama dibahas adalah mengenai “noktah”. Profesor bertanya
bagaimana alur penulisannya, apakah noktah akan dibawa sebagai titik ataukah
sebagai tanda. Jika noktah sebagai tanda maka akan lebih lazim menggunakan kata
“titik”. Saya masih ragu mengenai noktah sebagai titik atau tanda ini. Profesor
menyebutkan noktah ialah semua karakter dari semua titik. Sehingga ada perbedaan
antara noktak dan titik ini. Semua titik tidak selalu dapat diganti dengan mana
noktah. Karena titik disini diibaratkan turun sedalam-dalamnya dan naik
setinggi-tingginya. Bila titik diturunkan akan menjadi materi. Bila titik naik
dalam formal akan menjadi butir. Dan bila titik ini ada di dalam pikiran, maka
titik ialah objek. Dan di dalam filsafat, tiitk ialah yang ada. Bila di dalam
spiritual, titik ialah ciptaan Tuhan. Jadi tanda seperti apa yang dikatakan
noktah ialah bergantung dimana noktah ini didefinisikan ke dalam titik atau
tanda. Karena noktah juga dapat dikatakan sebagai tanda.
Sama
seperti unsur ontologis lainnya, noktah pun dapat dikaitkan dengan berbagai
hal. Pada refleksi sebelumnya telah dibahas tentang unsur ontologis yang dapat
dibuat atau diulas berdasarkan berbagai bidang ilmu. Noktah pun demikian, dapat
diulas berdasarkan hal lainnya. Misalnya bila kita kaitkan dengan
siang dan malam. Noktah dikala siang ialah terang dna dikala malam akan gelap.
Selanjutnya tinggal duteruskan bagaimana memperluasnya atau mengekstensi dan
intensinya. Padahal dalam kita hidup atau hermenetika, ada suatu lingkaran.
Lingkaran ini antara wadah dan Tuhan. Lingkaran ini akan terus berputar. Yang pada
akhirnya, karena ada awal jaman, maka akan ada akhir jaman.
Pada
pertemuan kali ini dibahas berbagai unsur ontologis namun kuantitasnya memang
lebih sedikit dibanding pertemuan sebelumnya, namun penjelasan dan masukan dari
Profesor lebih detail dan mendalam. Hingga
ada banyak pelajaran yang dapat kami ambil, diantaranya adalah yang paling
mendasar tentang tata cara penulisan. Penulisan yang baik adalah yang sesuai
dengan ketentuan, jelas dan bukan plagiat. Hal ini dapat dibuktikan atau
dilihat dari tata cara penulisan kutipan dan pencantuman sumber.
Sebagai
penutup perkuliahan, Profesor memberikan kami tugas baru yaitu pembahasan
mengenai “formal”. Profesor memberikan kami buku bacaan tentang metode formal
dalam matematika dan meminta kami membuat paper
mengenai formal dengan buku tersebut sebagai salah satu sumbernya dan dapat
dicari lagi sumber lainnya. Karena diperlukan ulasan lebih jauh dari masa ke
masa mengenai formal tersebut.