Sabtu, 11 Juni 2016

Sebuah Cermin Kecil, Refleksi Diri-8



Kamis, 12 Mei 2016, berlokasi di Gedung Lama Pascasarjana UNY. Perkuliahan hari itu dimulai pukul 15.30 wib. Sama seperti pertemuan sebelumnya, perkuliahaan hari ini membahas tugas paper unsur ontologis yang telah kami buat. Bedanya adalah kali ini tugas tersebut tidak dinilai namun tetap diberi masukan oleh Profesor agar tulisan yang kami uat menjadi lebih baik lagi.
Pada kesempatan ini saya menulis paper mengenai Negara. Namun karena keterbatasan waktu, paper saya tidak kebagian tambahan masukan dari Profesor. Oleh karenanya pada refleksi kali ini saya akan membahas mengenai paper yang dibuat oleh teman-teman lainnya.
Pada pertemuan sebelumnya Profesor mengingatkan agar kami memilih topik unsur ontologis yang tepat dan membuat tulisan dengan penyusunan yang rapi dan tepat. Kali ini Profesor mengingatkan kembali mengenai bagaimana mencantumkan sumber yang digunakan. Karena saya sendiripun belum mencantumkan sumber dengan tepat, maka saya banyak belajar hari ini.
Salah satu topik yang cukup lama dibahas adalah mengenai “noktah”. Profesor bertanya bagaimana alur penulisannya, apakah noktah akan dibawa sebagai titik ataukah sebagai tanda. Jika noktah sebagai tanda maka akan lebih lazim menggunakan kata “titik”. Saya masih ragu mengenai noktah sebagai titik atau tanda ini. Profesor menyebutkan noktah ialah semua karakter dari semua titik. Sehingga ada perbedaan antara noktak dan titik ini. Semua titik tidak selalu dapat diganti dengan mana noktah. Karena titik disini diibaratkan turun sedalam-dalamnya dan naik setinggi-tingginya. Bila titik diturunkan akan menjadi materi. Bila titik naik dalam formal akan menjadi butir. Dan bila titik ini ada di dalam pikiran, maka titik ialah objek. Dan di dalam filsafat, tiitk ialah yang ada. Bila di dalam spiritual, titik ialah ciptaan Tuhan. Jadi tanda seperti apa yang dikatakan noktah ialah bergantung dimana noktah ini didefinisikan ke dalam titik atau tanda. Karena noktah juga dapat dikatakan sebagai tanda.
Sama seperti unsur ontologis lainnya, noktah pun dapat dikaitkan dengan berbagai hal. Pada refleksi sebelumnya telah dibahas tentang unsur ontologis yang dapat dibuat atau diulas berdasarkan berbagai bidang ilmu. Noktah pun demikian, dapat diulas berdasarkan hal lainnya. Misalnya bila kita kaitkan dengan siang dan malam. Noktah dikala siang ialah terang dna dikala malam akan gelap. Selanjutnya tinggal duteruskan bagaimana memperluasnya atau mengekstensi dan intensinya. Padahal dalam kita hidup atau hermenetika, ada suatu lingkaran. Lingkaran ini antara wadah dan Tuhan. Lingkaran ini akan terus berputar. Yang pada akhirnya, karena ada awal jaman, maka akan ada akhir jaman.
Pada pertemuan kali ini dibahas berbagai unsur ontologis namun kuantitasnya memang lebih sedikit dibanding pertemuan sebelumnya, namun penjelasan dan masukan dari Profesor lebih detail dan mendalam. Hingga ada banyak pelajaran yang dapat kami ambil, diantaranya adalah yang paling mendasar tentang tata cara penulisan. Penulisan yang baik adalah yang sesuai dengan ketentuan, jelas dan bukan plagiat. Hal ini dapat dibuktikan atau dilihat dari tata cara penulisan kutipan dan pencantuman sumber.
Sebagai penutup perkuliahan, Profesor memberikan kami tugas baru yaitu pembahasan mengenai “formal”. Profesor memberikan kami buku bacaan tentang metode formal dalam matematika dan meminta kami membuat paper mengenai formal dengan buku tersebut sebagai salah satu sumbernya dan dapat dicari lagi sumber lainnya. Karena diperlukan ulasan lebih jauh dari masa ke masa mengenai formal tersebut.

Sebuah Cermin Kecil, Refleksi Diri-7



Kamis, 21 April 2016, berlokasi di Gedung Lama Pascasarjana UNY. Perkuliahan hari itu dimulai pukul 15.30 wib. Perkuliahan hari ini adalah membahas tugas yang diberikan pada dua minggu sebelumnya tentang unsur ontologis. Ini adalah tugas kedua setelah tugas sebelumnya yang merupakan pengganti UTS.
Sama seperti tugas sebelumnya, kali inipun Profesor membaca satu-persatu dengan cepat tugas kami masing-masing. Kemudian disetiap tugas tersebut Profesor memberikan masukkannya. Diantara masukkan itu tetap terselip makna bahwa filsafat objeknya adalah yang ada dan yang mungkin ada. Penilaiannya terbentang luas dalam ruang dan waktu. Tak henti-hentinya Profesor mengingatkan kami untuk mengitensif dan ekstensifkan tulisan kami ini. Jangan terkukung pada satu teori saja. Kali ini juga diingatkan kembali mengenai tata cara penulisan yang benar dalam membuat paper unsur ontologis ini. Bagaimana menulis kutipan yang benar serta bagaimana susunan penulisan yang tepat.
Sebuah tulisan yang baik adalah tulisan yang dimulai dengan pemilihan topik yang tepat, misalnya untuk unsur ontologis ini maka topik yang tepat adalah unsur yang benar-benar merupakan dasar dari suatu hal. Misalnya “bahagia”, sebenarnya bahagia ini bukan merupakan unsur dasar, ada “senang” yang merupakan unsur lebih dasar daripada bahagia. Oleh karenanya akan lebih tepat jika dipilih topik mengenai senang. Namun Profesor mengizinkan jika memang ingin mengangkat topik “bahagia” asalkan strukturnya jelas.
Struktur yang jelas disini maksudnya adalah struktur dengan timeline  yang jelas pula dan tidak plagiat tentunya. Timeline tersebut harus membentang secara ruang dan waktunya. Berjalan dari masa ke masa dan disesuaikan dengan pendapat filsuf pada masanya. Jadi harus dibahas dari masa terdahulu hingga sekarang.
Selain itu, struktur dari unsur ontologis itu juga harus meliputi dimensi material, formatif, normatif dan spiritual dari unsur tersebut. Jadi tidak hanya ruang dan waktunya saja yang perlu diekstensif dan intensifkan, namun juga keempat dimensi tersebut harus dijabarkan satu per satu. Dalam menjelaskan atau menguak unsur ontologis juga perlu diperhatikan bagaimanakah atau sejak kapankah istilah dari unsur tersebut mulai digunakan atau bagaimana munculnya.
Misalnya adalah topik “bahagia”. Seperti apakah orang dari jaman yunani kuno hingga sekarang mengartikan “bahagia”, bagaimanakah bentuk “bahagia” dari setiap jaman, dan apakah penggunaan kata “bahagia” sudah ada sejak dahulu kala. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan pertanyaan mendasar dan bukan satu-satunya yang dapat dijadikan landasan dalam mengulas suatu topik unsur ontologis.
Selain dari dimensinya, unsur ontologis ini dapat dikaitkan dengan berbagai bidang ilmu. Misalnya topik “adil”. Adil dapat ditelusuri dari berbagai bidang ilmu. Bagaimanakah makna adil menurut ilmu agama, ilmu ekonomi, ilmu etika, ilmu sosial dan lain sebagainya. Profesor mengingatkan lagi tentang Hermenetika. Segala yang berinteraksi secara ontologis itulah wadah dan isinya. 
Suatu tulisan yang baik adalah tulisan yang disusun dengan baik pula, serta dengan pemilihan topik yang tepat. Namun Profesor mengingatkan kembali, bahwa tulisan yang bagus diawali dengan keikhlasan dalam menulis. Karena dengan ikhlas kita terhindar dari pikiran dan sifat negatif.