Sabtu, 11 Juni 2016

Sebuah Cermin Kecil, Refleksi Diri-7



Kamis, 21 April 2016, berlokasi di Gedung Lama Pascasarjana UNY. Perkuliahan hari itu dimulai pukul 15.30 wib. Perkuliahan hari ini adalah membahas tugas yang diberikan pada dua minggu sebelumnya tentang unsur ontologis. Ini adalah tugas kedua setelah tugas sebelumnya yang merupakan pengganti UTS.
Sama seperti tugas sebelumnya, kali inipun Profesor membaca satu-persatu dengan cepat tugas kami masing-masing. Kemudian disetiap tugas tersebut Profesor memberikan masukkannya. Diantara masukkan itu tetap terselip makna bahwa filsafat objeknya adalah yang ada dan yang mungkin ada. Penilaiannya terbentang luas dalam ruang dan waktu. Tak henti-hentinya Profesor mengingatkan kami untuk mengitensif dan ekstensifkan tulisan kami ini. Jangan terkukung pada satu teori saja. Kali ini juga diingatkan kembali mengenai tata cara penulisan yang benar dalam membuat paper unsur ontologis ini. Bagaimana menulis kutipan yang benar serta bagaimana susunan penulisan yang tepat.
Sebuah tulisan yang baik adalah tulisan yang dimulai dengan pemilihan topik yang tepat, misalnya untuk unsur ontologis ini maka topik yang tepat adalah unsur yang benar-benar merupakan dasar dari suatu hal. Misalnya “bahagia”, sebenarnya bahagia ini bukan merupakan unsur dasar, ada “senang” yang merupakan unsur lebih dasar daripada bahagia. Oleh karenanya akan lebih tepat jika dipilih topik mengenai senang. Namun Profesor mengizinkan jika memang ingin mengangkat topik “bahagia” asalkan strukturnya jelas.
Struktur yang jelas disini maksudnya adalah struktur dengan timeline  yang jelas pula dan tidak plagiat tentunya. Timeline tersebut harus membentang secara ruang dan waktunya. Berjalan dari masa ke masa dan disesuaikan dengan pendapat filsuf pada masanya. Jadi harus dibahas dari masa terdahulu hingga sekarang.
Selain itu, struktur dari unsur ontologis itu juga harus meliputi dimensi material, formatif, normatif dan spiritual dari unsur tersebut. Jadi tidak hanya ruang dan waktunya saja yang perlu diekstensif dan intensifkan, namun juga keempat dimensi tersebut harus dijabarkan satu per satu. Dalam menjelaskan atau menguak unsur ontologis juga perlu diperhatikan bagaimanakah atau sejak kapankah istilah dari unsur tersebut mulai digunakan atau bagaimana munculnya.
Misalnya adalah topik “bahagia”. Seperti apakah orang dari jaman yunani kuno hingga sekarang mengartikan “bahagia”, bagaimanakah bentuk “bahagia” dari setiap jaman, dan apakah penggunaan kata “bahagia” sudah ada sejak dahulu kala. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan pertanyaan mendasar dan bukan satu-satunya yang dapat dijadikan landasan dalam mengulas suatu topik unsur ontologis.
Selain dari dimensinya, unsur ontologis ini dapat dikaitkan dengan berbagai bidang ilmu. Misalnya topik “adil”. Adil dapat ditelusuri dari berbagai bidang ilmu. Bagaimanakah makna adil menurut ilmu agama, ilmu ekonomi, ilmu etika, ilmu sosial dan lain sebagainya. Profesor mengingatkan lagi tentang Hermenetika. Segala yang berinteraksi secara ontologis itulah wadah dan isinya. 
Suatu tulisan yang baik adalah tulisan yang disusun dengan baik pula, serta dengan pemilihan topik yang tepat. Namun Profesor mengingatkan kembali, bahwa tulisan yang bagus diawali dengan keikhlasan dalam menulis. Karena dengan ikhlas kita terhindar dari pikiran dan sifat negatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar