Rabu, 11 Mei 2016

Sebuah Cermin Kecil, Refleksi Diri-6



Kamis, 7 April 2016, berlokasi di Gedung Lama Pascasarjana UNY. Tidak seperti biasanya, perkuliahan hari itu dimulai pukul 15.40 wib. Sesuai kesepakatan minggu lalu bahwa perkuliahan matematika model akan dilaksanakan bergantian antara dua dosen pengampu setiap minggunya. Kali ini adalah giliran Profesor sebagai dosen pengampu untuk matematika model. Profesor mengawali perkuliahan dengan berdoa menurut kepercayaan masing-masing.
Kemudian Profesor meminta kami untuk mengumpulkan tugas minggu lalu mengenai struktur dan matematika. Hari ini sepertinya adalah satu dari sekian banyak hari penting dalam hidup kami sebagai mahasiswa. Apalagi kalau bukan penilaian tugas sebagai pengganti UTS.
Profesor membaca satu-persatu dengan cepat tugas kami masing-masing. Disetiap tugas tersebut Profesor memberikan masukkannya. Diantara masukkan itu tetap terselip makna bahwa filsafat objeknya adalah yang ada dan yang mungkin ada. Penilaiannya terbentang luas dalam ruang dan waktu. Tak henti-hentinya Profesor mengingatkan kami untuk mengitensif dan ekstensifkan tulisan kami ini. Jangan terkukung pada satu teori saja.
Profesor mengingatkan lagi tentang Hermenetika. Segala yang berinteraksi secara ontologis itulah wadah dan isinya. Kaula dan Gusti. Jika Tuhan adalah gusti, maka ciptaannya adalah kaula. Kalau gusti adalah benda, maka semua sifatnya adalah kaulanya. Maka gusti bisa menjadi guru, maka siswa adalah kaulanya. Siswa dapat menjadi gusti, maka handphone-nya adalah kaula. Maka benda itu dan pemilikinya dapat bergerak berputar-putar. Terkadang si benda adalah gusti, pemilik kaula dan begitu sebaliknya. Berubah fungsi. Terkadang kita diperbudak dengan benda yang kita miliki.
Pada dunia barat, makrokosmos ada dalam pikiran, dan mikrokosmosnya adalah tindakan. Maka orang barat akan mengatakan, saya bertindak karena saya mengeri, saya bertindak karena saya bisa menalarnya masuk akal.
Namun di timur, paham ini bergeser. Dunia makrokosmosnya sudah masuk ke dalam hati. Mikrokosmosnya adalah tindakan. Hati kita di timur menyediakan perintah Tuhan, tuntunan agama adanya di hati. Maka tindakan kita berdasarkan ajaran kebaikan-kebaikan di dalam hati kita yang kita hayati kebenarannya. Jadi jelas nilai kebajikan barat dan timur berbeda. Barat nilai kebajikannya ada pada pikiran, sedangkan timur bergantung pada hati. 
Adalah Auguste Compte yang tak percaya pada hati, karena hati tak bisa dinalar. Tak bisa dijadikan panduan penilaian. Maka bagi Compte, hati atau spiritualitas letaknya paling bawah. Compte ini bukan hanya pandangan, wujudnya ada dalam diri kita sendiri. Kita yang mengutamakan teknologi dan meninggalkan spiritual atau ibadah itulah Compte. Jadi filsafat itu adalah dirimu sendiri. Maka jangan salahkan Compte sebagai pencetusnya. Tindakan kita mencerminkan setiap aliran filsafat yang pernah dijabarkan. Sekali lagi, karena sebenar-benar filsafat adalah dirimu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar