Kamis,
7 April 2016, berlokasi di Gedung Lama Pascasarjana UNY. Tidak seperti
biasanya, perkuliahan hari itu dimulai pukul 15.40 wib. Sesuai kesepakatan
minggu lalu bahwa perkuliahan matematika model akan dilaksanakan bergantian
antara dua dosen pengampu setiap minggunya. Kali ini adalah giliran Profesor
sebagai dosen pengampu untuk matematika model. Profesor mengawali perkuliahan
dengan berdoa menurut kepercayaan masing-masing.
Kemudian
Profesor meminta kami untuk mengumpulkan tugas minggu lalu mengenai struktur
dan matematika. Hari ini sepertinya adalah satu dari sekian banyak hari penting
dalam hidup kami sebagai mahasiswa. Apalagi kalau bukan penilaian tugas sebagai
pengganti UTS.
Profesor
membaca satu-persatu dengan cepat tugas kami masing-masing. Disetiap tugas
tersebut Profesor memberikan masukkannya. Diantara masukkan itu tetap terselip
makna bahwa filsafat objeknya adalah yang ada dan yang mungkin ada.
Penilaiannya terbentang luas dalam ruang dan waktu. Tak henti-hentinya Profesor
mengingatkan kami untuk mengitensif dan ekstensifkan tulisan kami ini. Jangan
terkukung pada satu teori saja.
Profesor
mengingatkan lagi tentang Hermenetika. Segala yang berinteraksi secara
ontologis itulah wadah dan isinya. Kaula dan Gusti. Jika Tuhan adalah gusti,
maka ciptaannya adalah kaula. Kalau gusti adalah benda, maka semua sifatnya
adalah kaulanya. Maka gusti bisa menjadi guru, maka siswa adalah kaulanya.
Siswa dapat menjadi gusti, maka handphone-nya
adalah kaula. Maka benda itu dan pemilikinya dapat bergerak berputar-putar.
Terkadang si benda adalah gusti, pemilik kaula dan begitu sebaliknya. Berubah
fungsi. Terkadang kita diperbudak dengan benda yang kita miliki.
Pada
dunia barat, makrokosmos ada dalam pikiran, dan mikrokosmosnya adalah tindakan.
Maka orang barat akan mengatakan, saya bertindak karena saya mengeri, saya
bertindak karena saya bisa menalarnya masuk akal.
Namun
di timur, paham ini bergeser. Dunia makrokosmosnya sudah masuk ke dalam hati.
Mikrokosmosnya adalah tindakan. Hati kita di timur menyediakan perintah Tuhan,
tuntunan agama adanya di hati. Maka tindakan kita berdasarkan ajaran
kebaikan-kebaikan di dalam hati kita yang kita hayati kebenarannya. Jadi jelas
nilai kebajikan barat dan timur berbeda. Barat nilai kebajikannya ada pada
pikiran, sedangkan timur bergantung pada hati.
Adalah Auguste Compte
yang tak percaya pada hati, karena hati tak bisa dinalar. Tak bisa dijadikan
panduan penilaian. Maka bagi Compte, hati atau spiritualitas letaknya paling
bawah. Compte ini bukan hanya pandangan, wujudnya ada dalam diri kita sendiri.
Kita yang mengutamakan teknologi dan meninggalkan spiritual atau ibadah itulah
Compte. Jadi filsafat itu adalah dirimu sendiri. Maka jangan salahkan Compte
sebagai pencetusnya. Tindakan kita mencerminkan setiap aliran filsafat yang
pernah dijabarkan. Sekali lagi, karena sebenar-benar filsafat adalah dirimu
sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar