Selasa, 19 April 2016

Sebuah Cermin Kecil, Refleksi Diri-5



Senin, 28 Maret 2016, berlokasi di ruangan 201B Gedung Lama Pascasarjana UNY. Perkuliahan matematika model dimulai pukul 9.20. Profesor mengawali perkuliahan dengan meminta kami untuk mengumpulkan tugas minggu lalu mengenai struktur dan matematika. Setelah semua tugas dikumpul, Profesor membuka perkuliahan dengan berdoa menurut kepercayaan masing-masing.
Pada pertemuan ini yang kami mendapat teguran untuk membuat penomoran tugas untuk membedakan dan menunjukkan progress dari setiap tugas yang kami kumpulkan tiap minggunya. Kemudian Profesor mengingatkan kami bahwa minggu depan akan dilaksanakan ujian tengah semester, dengan topik utamanya adalah tulisan kami mengenai struktur.
Kemudian Profesor memberi kami kebebasan apakah akan mengganti topik untuk minggu depan, atau menggunakan topik minggu ini yang kemudian diperbaiki berdasarkan saran Profesor. Inilah filsafat. Bahwa tidak ada batasan dalam pemikiran dalam filsafat. Kebebasan yang diberikan Profesor mengenai aturan tugas menunjukkan ciri filsafat yang menjadi dasar pemikiran beliau. Tidak ada aturan khusus dalam setiap penugasan yang diberikan beliau. Karena substansi penulisan ini bersifat bebas dan merdeka.
Aturan yang ada adalah kami wajib mengekstensikan dan mengintensifkan pemikiran kami mengenai topik yang akan diambil. Misalnya nilai yang diambil oleh teman saya Monica. Profesor memberi masukan dimulai dari zaman filsafat yang diambil, sebaiknya jangan dimulai dari zaman abad ke 19, karena nilai sesungguhnya sudah ada pada zaman jauh sebelum itu. Bahkan sejak manusia pertama kali diturunkan ke bumi. Nilai sudah ada saat itu. Benar salah, baik buruk, merupakan wujud adanya nilai di kehidupan kita.
Nilai secara luas dapat berwujud berbagai hal. Laki-laki, perempuan juga merupakan value. Kemudian Profesor menagih Hermenetika dan timeline penulisan yang kami buat. Dimulai dari awal zaman sampai sekarang, siapakah filsuf yang menggagasnya, kapan digagas, dan darimana sumbernyam, apakah dari artefak atau buku, ataukah penuturan dari orang lain.
Plato merupakan sumber daripada nilai. Karena Plato adalah muridnya Socrates, dimana Socrates tak pernah membuat buku hasil pemikirannya. Plato sebagai muridlah yang kemudian menuturkan ajaran sang guru. Dimulai dari kata-kata, dan gaya hidup Socrates. Ini salah satu contoh ekstensif dan intensif pikiran mengenai nilai.
Intensif dan ekstensif kerat kaitannya dengan struktur. Karena Hermenetika sendiri adalah struktur. Struktur yang kita miliki beragam macam, mulai dari normatif, formatif, material, spiritual. Value dalam arti material artinya bagaimana kita memahami value itu sendiri. Value dalam arti formal, formal menata hubungan antar value , puncaknya UUD 1945 misalnya yang menata nilai-nilai kenegaraan. Value dalam arti normatif dimana termasuk dalam filsafat, terdiri dari ontologis, epistemologis dan estetika. Value dalam arti spiritual adalah dibalik value ada value yang lain dan begitu seterusnya. 
Profesor selanjutnya memberikan saran-saran berkelanjutan untuk tugas ujian tengah semester kami. Untuk tugas ini saya sudah punya ide untuk struktur yang akan saya pilih. Tapi karena filsafat sangat luas dan dalam, serta memiliki faktor ruang dan waktu sebagai pembedanya, maka saya  membutuhkan banyak sekali referensi untuk mengembangkan struktur ontologis ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar