Minggu, 27 Maret 2016

Sebuah Cermin Kecil, Refleksi Diri-4



Senin, 21 Maret 2016, berlokasi di ruangan 201B Gedung Lama Pascasarjana UNY. Perkuliahan matematika model dimulai pukul 9.20. Profesor mengawali perkuliahan dengan meminta kami untuk mengumpulkan tugas minggu lalu mengenai struktur dan matematika. Setelah semua tugas dikumpul, Profesor membuka perkuliahan dengan berdoa menurut kepercayaan masing-masing.
Matematika model terkait dengan yang namanya ekstensi dan intensi. Ekstensi itu ada banyak, contohnya ekstensi dalam bidang waktu adalah timeline atau sesuai dengan sejarahnya. Artinya setiap hal dalam sejarah itu diekstensikan dalam ruangnya. Sedangkan intensi membahas mengenai kedalamannya.
Perkuliahan hari ini membahas tugas yang diberikan minggu lalu mengenai struktur. Profesor berkata ambilah unsur ontologisnya, unsur terdalam. Ibarat pohon, jika anda mengambil bunganya, akan sulit bagi anda untuk mencapai akarnya. Namun sebaliknya, jika diambil akarnya maka akan mudah mendapat bunganya.
Matematika itu adalah dahan. Artinya dalam filsafat dikatakan matematika adalah ilmu bidang. Oleh karenanya, untuk tugas struktur ini lebih baik jika mengambil unsur ontologisnya daripada mengambil bidangnya, yaitu matematika, yang terlalu luas jika akan diekstensi dan intensikan berdasarkan ruang dan waktunya.
Dari unsur ontologis yang sederhana dan mendasar ini dapat dikembangkan kemudian kepada matematika dan pembelajaran matematika. Untuk statistika misalnya, ada data sebagai unsur dasarnya. Unsur ontologis yang sedehana ini nantinya dapat dipecah lagi. Tentu butuh pengetahuan untuk mengubah unsur sederhana ini menjadi lebih bermakna. Jenis pengetahuan yang dapat dipilih yaitu pengetahuan klasik atau modern. Tergantung kita akan menggunakan pengetahuan yang mana.
Untuk penilaian tugas struktur ini, yang dilihat adalah sejauh mana ekstensi mengalir ke timeline jaman dan tuntunan pemikiran filsuf yang ada. Kemudian dilihat juga mengenai intensi, atau kedalamannya. Pilar filsafat adalah hakikatnya. Kemudian dilihat epistemologi dan estetikanya yang juga dituntun oleh pemikiran filsuf.
Tugas ini sesungguhnya merupakan simulasi hidup kita sehari-hari. Bahwa unsurnya adalah sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Jadi apapun topiknya, silahkan ditransformasikan berdasarkan kata bendanya atau kata sifatnya. Contoh topik yang menarik adalah tentang pikiran. Pikiran itu adalah potensi, kita berpikir dari sejak lahir hingga sekarang, terus saja kita berpikir. Topik ini dapat dikembangkan dengan mengkaji pendapat filsuf mengenai pikiran.
Setiap topik yang dipilih harus dikembangkan seluas-luasnya dengan dasar yang jelas. Misalnya akan dijelaskan berdasarkan timeline, dimulai dari jaman yunani kuno hingga saat ini, misalnya. Karena ini adalah filsafat jadi sifatnya komprehensif. Pikiran di dalam pikiran, pikiran di luar pikiran. Pikiran tentang siapa yang membicarakannya dan bagaimana membicarakannya, dan terus mengalir berdasarkan ruang dan waktunya. 
Bagi saya, tugas ini merupakan tantangan tersendiri. Karena pikiran manusia terus saja berubah, entah mengapa ide yang datang juga terus berganti. Hari ini saya ingin membahas mengenai A, besok saya tertarik untuk membahas B. Alhasil, hingga saat ini pun belum ada ide matang yang lahir dari pemikiran saya. Semoga tugas ini bisa saya dan teman-teman lainnya kerjakan dan kumpulkan tepat waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar