Senin,
7 Maret 2016, berlokasi di ruangan 201B Gedung Lama Pascasarjana UNY. Perkuliahan
matematika model dimulai pukul 9.20. Sama seperti pertemuan sebelumnya,
Profesor memulai perkuliahan dengan berdoa bersama menurut keyakinan
masing-masing. Pada pertemuan kedua ini, masing-masing kami sudah berinisiatif
untuk menyiapkan handphone sebagai
alat untuk merekam perkuliahan yang disampaikan beliau.
Pada
pertemuan kedua ini, Profesor mengingatkan kembali bahwa Matematika Model
menggunakan metode Hermenetika, yaitu metode hidup, terjemah dan menerjemahkan.
Metode ini juga digunakan oleh matematikawan murni, dimana mereka berpikir
menggunakan landasan. Maka matematika murni disebut sebagai kaum berlandasan.
Di dunia ini hanya ada dua jenis pemikiran, yaitu pemikiran berlandasan dan
pemikiran tidak berlandasan. Sama halnya dengan ketika kita melakukan suatu
kegiatan maka kita melakukannya dengan berlandaskan sesuatu.
Pemikiran
yang tidak berlandasan adalah pemikirannya anak kecil. Misalnya dia mengerti
tentang besar kecil, jauh dekat, namun tidak berlandaskan defenisi, landasannya
berdasarkan pergaulan atau pengalaman. Jadi di dunia ini ada dua ilmu, yaitu
ilmu yang berlandasan dan ilmu intuisi. Matematikanya anak kecil adalah
matematika intuisi.
Matematikawan
murni berpikir secara berlandasan, landasannya adalah defenisi. Jika ditarik
kembali, defenisi itu adalah struktur. Tidak ada defenisi dari landasan
defenisi ini. Karena defenisi merupakan struktur dasar dari dirinya sendiri. Struktur
dasar juga memiliki wadah dan isinya sendiri. Contohnya kata “adalah”. Tidak
ada yang bisa mendefenisikan “adalah”. Namun ia memiliki wadah dan isinya
sendiri, merupakan penghubung antara subjek dan predikatnya.
Bagi
filsafat, defenisi merupakan struktur, sedangkan dalam matematika tidak. Maka
dibentuklah aksioma, yang merupakan kumpulan dari defenisi-defenisi tersebut.
Kemudian ada teorema. Para matematikawan berpikir dan membentuk teorema-teorema
baru sedemikian sehingga teorema tersebut tidak berkontradiksi dengan teorema
sebelumnya. Inilah yang disebut identitas, tidak bersifat kontrakdiktif.
Matematika
murni terbebas dari ruang dan waktu, namun tetap memiliki unsur-unsur yang tak
terbatas. Maka terdapat banyak sekali rumus dan struktur. Semua objek
matematika murni memiliki rumusnya sendiri.
Seperti
itulah kaitannya matematika model dan matematika murni. Kemudian diekstensi dan
intensikan berdasarkan filsafat dimana matematika murni dipikirkan
sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya dalam ruang dan waktu.
Di akhir perkuliahan, Profesor
menugaskan kami mencari hubungan segala hal apapun dalam dunia ini dengan
matematika. Kemudian dibahas secara filsafat. Ini merupakan tugas pertama kami
selain refleksi tentunya. Kami dibebaskan memilih tema atau topik pembahasan.
Sebuah topik yang sederhana namun luas bahasannya.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus